Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
KANALSUMATERA.com - BAGANSIAPIAPI – Tradisi Ritual Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, kembali menjadi sorotan sebagai salah satu warisan budaya unggulan Provinsi Riau yang mendunia. Tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1820–1826 ini terus terjaga kelestariannya dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat sekaligus magnet wisata internasional.
Setiap tahunnya, Ritual Bakar Tongkang tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu menarik ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri. Perayaan ini menghadirkan perpaduan nilai sejarah, spiritualitas, serta kekuatan tradisi yang unik dan khas, menjadikannya sebagai salah satu event budaya terbesar di Indonesia.
Salah satu tokoh yang konsisten mendukung kelancaran dan kemeriahan acara ini adalah Sugianto, yang akrab disapa Kho Kok Ing. Selama kurang lebih 10 tahun, ia aktif memberikan bantuan langsung, mulai dari kegiatan sosial, perbaikan kelenteng, hingga dukungan terhadap hiburan rakyat. Kontribusi tersebut membuat pelaksanaan ritual semakin meriah dan terorganisir dengan baik.
Menurut DR. Andy Chandra Setiadji, SH., MH, Ketua Bidang Hukum dan HAM Persatuan Masyarakat Riau Indonesia (PMRI) sekaligus tokoh masyarakat asal Bagansiapiapi, peran Sugianto sangat signifikan dalam perkembangan tradisi ini.
“Tanpa dukungan beliau, kegiatan ini tidak akan semeriah sekarang. Bahkan berkat kontribusinya, wisatawan dari mancanegara pun tertarik datang, mulai dari Amerika, Malaysia, hingga negara lain,” ujarnya saat ditemui, Selasa (30/6/2026).
Andy Chandra menegaskan bahwa Ritual Bakar Tongkang bukan sekadar seremoni budaya biasa, melainkan simbol akulturasi yang kuat dan bernilai internasional.
“Ini sudah menjadi warisan budaya yang bersifat internasional, tempat bertemunya dua kebiasaan yang berbeda secara damai — proses akulturasi yang memperkaya identitas kita,” jelasnya.
Selain memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi, Ritual Bakar Tongkang juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Momentum ini menjadi peluang bagi pelaku usaha kecil, pedagang kuliner, hingga pengemudi becak untuk meningkatkan pendapatan.
“Ajaran kebaikan juga terkandung di sini: berbuat baik tidak mengenal waktu. Saat kita datang, kita bisa memberikan manfaat lebih — misalnya memberi ongkos lebih dari harga biasa, sebagai bentuk kontribusi bagi warga setempat,” tambahnya.
Meski telah 57 tahun meninggalkan Bagansiapiapi, Andy Chandra mengaku ikatan emosionalnya dengan kampung halaman tetap kuat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesejahteraan masyarakat melalui momentum budaya ini.
“Tali pusar saya masih di sini, ini tempat asal saya. Saya pun pernah mengingatkan Bupati Rokan Hilir untuk terus menjaga kebersamaan dan kesejahteraan masyarakat. Ritual ini adalah bukti bahwa kita bisa bersatu, bersilaturahmi, dan menjaga persaudaraan tanpa memandang perbedaan,” pungkasnya.
Ritual Bakar Tongkang kini tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga wajah pariwisata Riau di mata dunia, sekaligus bukti bahwa kekuatan budaya mampu menyatukan masyarakat lintas generasi dan bangsa.
